Mengkritisi statistik tentang unsafe act dan unsafe condition

Mengkritisi statistik tentang unsafe act dan unsafe condition

Dikotomi penyebab kecelakaan kerja

Di dalam praktek keselamatan dan kesehatan kerja angka statistik sering digunakan sebagai acuan untuk memperkuat argumentasi untuk menetapkan kan suatu program keselamatan yang akan dijalankan. Angka statistik yang sering digunakan adalah ah statistik unsafe condition dan dan unsafe act.  Sepintas laludikotomi angka-angka ini terlihat sepele, namun prakteknya banyak mempengaruhi cara berfikir dalam  menentukan  prioritas program yang akan dijalankan.  Dan praktek K3 di negeri kita  dalam 2 dekade ini banyak berbasis statistik yang yang di kotomi tersebut.

Dikotomi unsafe act dan condition

Di dalam beberapa program keselamatan perilaku seringkali disebutkan bahwa perbandingan  angka statistik  unsafe condition sebesar sekitar 80 %, sementara  unsafe act  sebesar 20%.  Sehingga jumlah semuanya adalah 100%.  Terlihat disini kontribusi unsafe condition sangat kecil dalam menimbulkan kecelakaan kerja. Dalam hal ini ini kita memaknai kedua angka statistik tersebut merupakan masing masing kejadian tunggal, dalam pengertian an-naba  bahwa unsafe act  dan unsafe condition merupakan  kejadian yang terpisah atau  tidak merupakan  kejadian ganda.

unsafe act, unsafe condition, manajemen risiko k3, penilaian risiko k3, program kerja k3

Perbandingan angka tersebut diatas mempengaruhi pola pikir  pengambilan keputusan  dalam proses manajemen resiko K3.  Bila manajemen risiko dapat mengatasi unsafe act maka dengan mudah di fahami sebanyak 80% kejadian kecelakaan dapat teratasi. Artinya dengan  menitikberatkan program   keselamatan dan kesehatan kerja kepada program keselamatan perilaku maka 80% masalah kecelakaan kerja akan mudah dah teratasi.

Sebagaimana kita  lihat bahwa banyak sekali perusahaan-perusahaan menjadikan program keselamatan perilaku aku menjadi program andalan. Namun program tersebut pada kenyataannya sering menimbulkan dan kegagalan, sehingga angka kecelakaan kerja masih tetap tinggi.

Secara teoritis angka dikotomi antara unsafe act  dan unsafe condition adalah keliru.  Dimana dikotomi tersebut mengisyaratkan bahwa bila kecelakaan dan yang disebabkan kan oleh  unsafe act  tidak mungkin overlapping dengan penyebab unsafe condition. Sementara teori kecelakaan biasanya menganut paham dan bukti-bukti lapangan dimana kecelakaan kerja  disebabkan oleh kejadian ganda.

Irisan antara perilaku tidak aman dan kondisi tidak aman

Dila pada paragraf di atas kita melihat dikotomi angka-angka pada dua kejadiandan, maka dibawah ini kita akan mencoba melihat sebaliknya, yaitu irisan antara dua angka-angka tersebut. Artinya adalah kejadian bersama sama, atau kejadian bersama adalah milik kedua dua tipe kejadian tersebut.

Sebagaimana kita ketahui bahwa  perilaku tidak aman dan dan kondisi tidak aman bisa terjadi sendiri-sendiri, atau juga bisa terjadi bersama-sama dalam menimbulkan kan kecelakaan kerja.  Di dalam teori kecelakaan, kecelakaan disebabkan oleh dua atau lebih faktor-faktor kita sebut kecelakaan ini termasuk dalam kategori multi cause accident. Kecelakaan kerja yang disebabkan oleh sebab-sebab  multiple  ini  faktanya memang yang sering ditemukan kan di lapangan kerja.

Dari pandangan seperti ini, maka penyajian angka-angka statistik kecelakaan kerja seharusnya tidak menganut paham dikotomi seperti  pada paragraf paragraf di atas. Menyebabkan kecelakaan kerja, di dalam tulisan yang diterbitkan oleh Nasional Safety Council,  dikatakan bahwa  proporsi kejadian perilaku tidak aman dan kondisi tidak aman dalam  menyebabkan kan kecelakaan kerja adalah sebagai 87% dan 78%.  Jumlah  kedua angka ini ini adalah sebesar 165%.  Dalam hal ini ini kita dapat memahami bahwa terdapat 65% dari kecelakaan tersebut disebabkan oleh kejadian ganda, yaitu gabungan antara perilaku tidak aman dan dan kondisi tidak aman.

unsafe act, unsafe condition, manajemen risiko k3, penilaian risiko k3

Kesimpulan

Penyajian  angka-angka statistik yang menganut paham dikotomi sebaiknya tidak digunakan. Sebab hal ini ini mengabarkan paham jam kecelakaan yang  memiliki sebab ganda. Sebaiknya gunakanlah angka-angka statistik yang menggambarkan kan kecelakaan kerja yang yang yang yang disebabkan kan oleh eh sebab-sebab ganda.

Dan jangan lupa apa bahwa  pola pikir pada manajemen risiko dipengaruhi oleh pemahaman angka-angka statistik ini.  Pemahaman yang baik akan menghasilkan kan  penilaian resiko yang baik pula.