You are currently viewing Tingkat Budaya K3

Tingkat Budaya K3

Share

Pemahaman praktis tentang tingkat budaya k3.

Sebelum membahas tingkat budaya k3, ada baiknya kita mengenal pengertian umum dari kata budaya, sebab rumpun keilmuan yang digunakan disini adalah rumpun budaya dari anthtropologi
Di dalam anthropology tingkatan budaya dikenal dengan dua polarisasi saja, atau dua tingkat seperti berbudaya atau tidak berbudaya. Di Indonesia yang paling dikenal luas tentang budaya adalah budaya gotong royong dan sebaliknya dari itu budaya egois. Atau lebih mudah sebut saja polarisasinya ke kanan atau ke kiri. Polarisasi dua arah. Kita menilai tingkatan atau kekuatan budaya tertentu tersebut dengan melihat gambaran pada anggota kelompok / komunitas tertentu berpolarisasi dominan kepada sisi yang mana.

Tingkat budaya k3

Awal diperkenalkannya istilah budaya keselamatan dan kesehatan kerja, tepatnya safety culture, tingkatannya hanya dua, yaitu: ber-budaya k3, tidak ber budaya k3, atau budaya k3 kuat dan budaya k3 lemah. Kemudian diperkenalkan pembagian 3 tingkat, seperti: tingkat pertama, budaya karena takut pada regulasi (budaya palu, ); kedua, budaya yang mulai karena sadar k3; ketiga, budaya yang contineous improvement. Kita juga bisa temukan pembagian empat tingkatan. Pembagian tingkat budaya k3 semakin berkembang, dan akhir-akhir ini pembagian tersebut yang populer adalah dengan sebutan maturiry yang dibagi menjadi lima tingkatan.
Pada dasarnya semua cara pembagian tingkat budaya k3 (keselamatan dan kesehatan kerja) seperti diatas adalah semuanya benar, tak ada yang salah, tak ada yang lebih bagus dan/ atau lebih buruk. Semuanya itu tergantung cara memandang, keluasan cara memandang dan kebutuhan. Mungkin saja nanti akan ada pembagian menjadi enam, tujuh tingkatan. Yang terpenting dalam pembagian tingkat budaya k3 tersebut tergambar ada gradasi peningkatan dari tingkat satu ke tingkatan dua, dan seterusnya.

Penilaian / pengukuran tingkatan

Penilaian budaya k3 menjadi beberapa tingkat bisa sangat berguna, terutama untuk menetapkan road map dalam perencanaan k3 perusahaan. Yang perlu kita garis bawahi adalah road map yang akan dibuat adalah jalan_k3 yang harus dilewati untuk mencapai status tingkat budaya k3 yang kuat. Budaya k3 harus dibangun dengan langkah langkah yang handal dan dukungan yang setimpal. Budaya k3 adalah sisi penglihatan pada aspek manusia, disisi lain k3 memerlukan iptek, dan keduanya memerlukan dukungan manajemen. Menilai hanya sisi manusia saja, tidak akan menggambarkan budaya k3 perusahaan, sebab “the way” untuk melaksana k3 yang baik tidak terpenuhi.

Pengukuran budaya k3 seyogyanya dapat mendeteksi semua keperluan perusahaan yang feasible untuk di tingkatkan di masa mendatang.
Satu hal yang terakhir perlu digaris bawahi adalah pengukuran tingkatan budaya k3 merupakan pendekatan kualitatif, sintesa dari upaya explorasi fakta lapangan oleh tenaga ahli. Explorasi merupakan upaya menggali fenomena, fakta lapangan yang bersifat terbuka. Artinya tenaga ahli yang turun ke lapangan dalam melakukan studinya tidak terlalu terikat dengan protokol yang dibuat sebelum turun ke lapangan. Mereka bisa jadi merubah protokol tersebut setelah menemukan fakta tertentu yang diluar perkiraan.

Semoga bermafaat.

tingkat budaya k3

Postingan yang mirip:

Safety Culture Maturity.
Maturitas budaya k3 / Safety Culture Maturity
Penilaian iklim k3
Budaya k3 perusahaan
Budaya k3 yang kuat (pengalaman kunjungan)
Tingkatan budaya k3
Penilaian budaya k3
Program pengembangan budaya k3