You are currently viewing Maturitas Budaya K3

Maturitas Budaya K3

MATURITAS BUDAYA K3

Maturitas budaya k3, pengukuran budaya k3, atau untuk menilai tingkat budaya k3 pada dasarnya hanya menunjukkan dua polarisasi seperti: budaya k3 kuat dan budaya k3 lemah, tidak ber budaya k3 dan ber budaya k3. Didalam masyarakat kita mengenal tentang korupsi, dikaitkan dengan budaya maka kita menyebutnya berbudaya korupsi dan tidak berbudaya korupsi. Budaya rajin belajar, budaya malas. dan seterusnya. Berjalan waktu budaya k3 makin berkembang sebagian kajian keilmuan dan praktek, begitu juga tingkatannya berkembang dari dua tingkat, tiga tingkat, empat dan lima.

Maturitas secara umum

Secara umum kematangan dapat dibagi tingakatannya seperti dibawah berikut,

  1. ignore
  2. tahu
  3. mengerti
  4. memahami
  5. menghayati
  6. terlibat
  7. belajar terus menerus

Esensinya adalah tingkatan kematangan dimulai dari tingkat yang terendah sampai tertinggi. Bila disederhanakan menjali dua tingkatan maka bisa digambarkan sebagai: point 1,2,3 dan 4 kita sebut tingkatan rendah, dan  point ,5, 6 dan 7 tingkatan tinggi. Saya sering juga menyebutnya maturitas budaya k3 seperti diatas dengan sebuatan sederhana sebagai mature dan inmature.

Maturitas  2 tingkat

  1. budaya k3 lemah
  2. budaya k3 kuat

Maturitas 3 level

  1. Abai
  2. Regulasi
  3. Cont Improvement

Maturitas 5 level

Beberapa tahun terakhir ini, maturitas 5 tingkatan banyak digunakan. Banyak versi yang dapat kita temukan. Salah satu model yang poluler digunakan adalah model yang dibuat oleh Keil Centre, 1999. Untuk menggambarkan maturitas budaya k3 mereka buat seperti urutan dibawah ini:

  1. Emerging
  2. Managing
  3. Involving
  4. Cooperating
  5. Continually improving

Prinsip Pengukuran tingkatan budaya k3

Diatas digambarkan aneka variasi tingkatan maturitas budaya k3. Yang penting diingat adalah masing-masing model / variasi diatas dibuat berdasarkan kebutuhan yang ditemukan dan dipikirkan oleh pembuatnya. Artinya konteks yang mereka hadapi di perusahaan mereka disesuaikan dengan model yang mereka susun. Karena itu tidak mengherankan bila ditemukan banyak variasi kita temukan yang beredar. Bila kita tak memahami apa yang kita inginkan maka kita akan kebingunan sendiri dalam memilih.

Begitu banyak model, semua mengakui bagus. Yang mana yang bagus yang sejalan dengan problematik, konteks yang sedang kita hadapi di perusahaan. Memilih salah satu dari variasi tersebut diatas tentu akan mempermudah pekerjaan, namun memahami apa yang kita hadapi dan merancang sendiri jalan keluarnya maka itu akan lebih baik. Membuat kriteria, moldel tingkatan yang match dengan konteks yang dihadapi juga bisa.

Model yang beredar secara luas diatas seringkali dilengkapi dengan tools pengukur yang disesuaikan dengan konsepnya masing-masing. Yang sering mengecohkan adalah sikap yang mengandalkan tools daripada mengandalkan pemahaman apa yang kita inginkan, apa yang akan kita ukur. Ini merupakan cara berfikr yang terbalik. Mungkin hal dibawah ini bisa digunakan sebagai panduan agar apa tujuan dan apa yang kita inginkan sesuai dengan konsep dan tools yang digunakan.

  • Kita bisa mengukur apa yang kita tahu, apa yang kita inginkan. Kuncinya adalah kita tahu apa yang akan kita ingin ukur. Keinginan tersebut kita yang menetapkan. Tools bisa di pilih kemudian, bahkan dibuat khusus untuk menjawab keinginan kita dengan mengikuti metodologi yang benar.
  • Pengukuran maturias budaya k3 lebih bersifat eksploratif dibandingkan dengan pembuktian. Eksplorasi fakta lebih mengandalkan kemampuan ahli menggali fenomena, tema / tematik dilapangan. Hal ini lebih merupakan kesimpulan peneliti, ahli.
    Bandingkan dengan sisi lain pembuktian lebih bersifat mencari kesesuaian hal hal yang diasumsikan ada dilapangan, dan banyak mengandalkan pengumpulan persepsi / pandangan responden dengan menggukan kuesioner. Hal ini lebih merupakan kesimpulan statistik dari pandangan karyawan.
  • Eksplorasi dilengkapi pembuktian akan lebih baik.

Metode Pengukuran level budaya k3

  1. Seperti bahasan pada alinea diatas, pengukuran maturitas budaya k3 gabungan antara pendekatan “kuantitatif” dan “kualitatif”
  2. Tools, Jangan teralu terpaku pada tools. Artinya jangan sampai tools yang ada menyetel keinginan kita dalam mengukur. tetapi harus dibalik tools tersebut kita buat agar bisa memenuhi keinginan kita, agar bisa menjawab objektif yang sedang kita permasalahkan.

Mudah2an tulisan singkat ini dapat menyumbang saran, menambah wawasan,

Tautan:

Budaya Keselamatan Kerja

Budaya Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Program k3 dan budaya k3
Maturitas budaya k3 / Safety Culture Maturity
Penilaian iklim k3
Budaya k3 perusahaan
Budaya k3 yang kuat (pengalaman kunjungan)
Tingkatan budaya k3
Penilaian budaya k3
Program pengembangan budaya k3

 

Pengukuran budaya k3

Budaya keselamatan dan kesehatan kerja, budaya k3, budaya keselamatan kerja