You are currently viewing Budaya k3 penyebab kecelakaan
Budaya k3, budaya k3 perusahaan, budaya kesalamatan kerja, budaya keselamatan dan kesehatan kerja, budaya k3 organisasi,

Budaya k3 penyebab kecelakaan

Perkembangan Budaya k3

Budaya k3 penyebab kecelakaan, selanjutnya kita singkat budaya k3 semakin berkembang. Ilmu pengetahuan tentang penyebab kecelakaan mengalami berkembang melalui empat periode. Periode pertama adalah periode teknis. Kecelakaan dipandang sebagai sebab dari gagalnya aspek teknis pada pekerjaan. Kedua; adalah periode human error, ketiga; periode sosioteknikal, dan keempat; priode budaya k3. Budaya k3 penyebab kecelakaan mengakui bahwa operator pada dasarnya tidak melakukan tugas mereka atau berinteraksi dengan teknologi dalam secara terpisah, melainkan mereka melakukan itu sebagai anggota tim yang terkoordinasi yang tertanam dalam budaya perusahaan atau organisasi tertentu. (Wiegmann, von Thaden, & Gibbons, 2007). Hal hal berkaitan dengan isu k3 yang ditampilkan oleh pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya tidak lepas dari cerminan asumsi, values seluruh anggota perusahaan yang sudah tertanam dalam waktu yang sudah berlangsung lama.

Permulaan pandangan bawha Budaya k3 penyebab kecelakaan atau budaya k3 dipandang sebagai penyebab kecelakaan dimulai sejak terjadinya kecelakaan pada industri nuklir Chernobyl pada tahun 1986. Dua lembaga ini, pertama IAEA (International Atomic Energy Agency) dan OECD Nuclear Agency menyimpulkan, bahwa budaya k3 yang buruk disebut sebagai penyumbang atas kecelakaan tersebut. Sejak itu budaya k3 perusahaan mulai menjadi perhatian, yang semakin lama semakin banyak dibicarakan baik pada jurnal-jurnal, forum-forum profesional. Akhir akhir ini berkembang pula cara-cara mengukur budaya dari berbagai lembaga, institusi k3 ditingkat internasional. Dan untuk kemudahan juga dikembangkan penilaian budaya k3 melalui mengundulkan pandangan karyawan (persepsi) terhadap beberapa variabel yang dianggap berkaitan dengan variabel budaya k3. Perkembangan itu berjalan sangat pesat sejalan dengan besarnya keinginan kalan perusahaan untuk membenahi budaya k3 di perusahaan. Dan sejalan dengan itu kekuatiran dari para ahli juga semakin berkembang, karena dikuatirkan konsep budaya yang dikembangkan semakin membingungkan.

Terlepas dari perkembangan yang membawa kekuatiran para pakar diatas, kita lebih baik fokus kepada anggapan bahwa budaya k3 sangat berperan dalam kinerja k3 di perusahaan. Yang perlu kita catat adalah, asessmen risiko, analisis risiko, pengembangan smk3 di perusahaan, menjadi kurang lengkap bila tidak mempertimbangkan unsur budaya k3 suatu perusahaan. Oleh sebab itu, kompetensi dalam bidang budaya k3 menjadi penting, dan dapat dijadikan perhatian serius bagi kita. Pihak pemerintah, kelompok pakar k3, perguruan tinggi selayaknya menjadikan isu ini dapat di antisipasi untuk melengkapi langkah upaya peningkatan kinerja k3 di perusahaan khususnya, dan di nasional pada umumnya.

 

Links

  1. Page: Budaya keselamatan dan kesehatan kerja
  2. Tingkatan budaya k3
  3. Maturitas budaya k3