Depok, Jabar
satrya.net@gmail.com

Praktek Penilaian Risiko yang kurang tepat

Komunitas Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Praktek Penilaian Risiko yang kurang tepat

Penilaian risiko, risk assessment

PENDAHULUAN

Praktek menilai risiko seperti HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) sebenarnya bisa disebut dengan singkat sebagai Risk Assessment atau Penilaian Risiko saja. Kita juga sering melihat sebutan lainnya seperti IBPR (Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko). Ada juga yang menyebutnya sebagai HIRA (Hazard Identifcation Risk Assessment). Semuanya sama, hanya berbeda penamaan yang sering membingungkan pemula dan mengira hal tersebut masing masingnya harus dipelajari secara terpisah.

Sementara HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, Determining Control) merupakan kelanjutan dari HIRA, yaitu dilanjutkan dengan menetapkan kontrol / pengendalian risiko.

Penilaian Risiko

Penilaian risiko (HIRA, IBPR) terdiri dari langkah-langkah berikut:

  1. Identifikasi bahaya
  2. Penilaian Risiko
  3. Bisa juga dilanjut sampai Evaluasi Risiko
 

Risk Assessment, penilaian risiko, risk management, manajemen risiko

Penilaian Risiko

Identifikasi Bahaya

Hazard bisa diartikan penyebab kecelakan dan gannguan kesehatan. Mereka sumber masalah. Pengenalan bahaya mengarah pada pemahaman tentang penyebab (causes) yang membantu pengendalian pada hirarki pengendalian tingkat tinggi. Kekeliruan pada praktek lapangan pengenalan ini tidak berjalan baik. Definisi bahaya tidak difahami dengan baik. Sehingga sering ditemukan pada laporan tabel HIRA yang dibuat pada kolom hazard ditulis seperti: “terjatuh, terpeleset, tergores, dsb”. Ini kekeliruan kecil, tapi fatal.

Penyebab langsung dan tidak langsung

Mengenali hazard yang kategori penyebab langsung dan tidak langsung memerlukan pemahaman teori. Biasaya adalah tentang teori kecelakaan. Pemahaman teori yang memadai akan memberi pijakan yang baik untuk analis/ asesor memprediksi akan “what can go wrong, and how”. Dan sekaligus dapat memperkirakan mana penyebab yang bersifat langsung dan yang tidak langsung.

Tahap ini sejogya analis mampu mengenali semua bahaya-bahaya yang ada pada pekerjan-pekerjaan. Yang perlu dikenali adalah nama hazardnya, bukan nama kelompok hazardnya. H2S adalah nama hazard, sedang hazard kimia nama kelompok. Debu semen adalah hazard, sementara hazard fisik adalah nama kelompok. Dengan menulis dengan tepat nama hazard seperti H2S diatas, maka langsung mudah di trace seluk beluk tentang H2S. Sementara bila hanya ditulis sebagai hazard kimia, maka bisa bayangkan laporan assessment seperti itu akan menyulitkan banyak pihak. Bahan kimia mana yang dimaksudkan, sedang kita tahu ada ribuan bahan kimia..

Kesimpulan

Menilai suatu risiko pada pekerjaan memerlukan ketelitian dan kompetensi yang baik. Dari sinilah banyak hal mengacu, ia merupakan landasan berpijak perencanaan program-program yang lainnya. Salah satu contoh bagaimana SMK3 dikembangkan.

Note: Tulisan ini hanyalah tulisan singkat, jauh dari pemenuhan kebutuhan. Mungkin lebih cocok disebut sebabai info pengalaman. Dengan segala senang hati ditunggu kritik dan sarannya